Banner Go Green
SHOWBIZ

Yuly Twins Buktikan Musik Bisa Jadi Ruang Inklusif bagi Anak Berkebutuhan Khusus

0
×

Yuly Twins Buktikan Musik Bisa Jadi Ruang Inklusif bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Sebarkan artikel ini
IMG 9252

BANDUNG – Musik dapat menjadi ruang bagi setiap anak untuk mengenali potensi, membangun kepercayaan diri, dan menunjukkan kemampuan tanpa harus memenuhi standar kesempurnaan orang lain. Prinsip inilah yang menjadi dasar perjalanan Yuly Twins dalam membangun ekosistem musik inklusif melalui TEMANHEBAT RECORDS.

Bagi Yuly, kesempatan mencoba seharusnya diberikan sejak awal, bukan menunggu seorang anak dianggap mampu atau sempurna. Gagasan tersebut tumbuh dari pengalamannya mendampingi Kenneth Trevi, putranya yang merupakan remaja dengan disleksia.

Perjalanan itu kemudian berkembang menjadi inisiatif kreatif yang membuka kesempatan bagi lebih banyak anak, termasuk anak berkebutuhan khusus, untuk belajar, berkarya, dan mendapatkan apresiasi atas kemampuan mereka.

Yuly dikenal menjalani berbagai peran di industri musik, mulai dari produser, promotor, penyanyi, penulis lagu, hingga salah satu pendiri TEMANHEBAT RECORDS. Bersama Senada Music Group, ia berupaya membangun ruang kreatif yang menempatkan keberanian mencoba sebagai bagian penting dari proses pengembangan talenta.

“Anak-anak berkebutuhan khusus juga memiliki potensi dan layak mendapatkan kesempatan untuk berkarya,” ungkap Yuly kepada awak media, Jumat (6/11/2026).

Menurutnya, musik bukan hanya tentang menghasilkan karya atau menghadirkan hiburan. Lebih dari itu, musik dapat menjadi sarana untuk menciptakan kesempatan, membangun kepercayaan diri, dan membantu anak menemukan identitas serta suara mereka sendiri.

Visi tersebut menjadi landasan Yuly dalam mengembangkan TEMANHEBAT RECORDS. Label ini lahir dari perjalanan pribadinya sebagai seorang ibu yang ingin menyediakan ruang bagi Kenneth untuk mencoba, belajar, dan menghasilkan karya sendiri.

Yuly berharap semakin banyak anak berani memulai perjalanan kreatif, menikmati proses belajar, serta menemukan sesuatu yang dapat mereka banggakan melalui karya masing-masing.

Upaya membangun ruang inklusif itu juga diwujudkan melalui kegiatan yang lebih luas. Sebagai promotor, Yuly ingin menghadirkan pengalaman yang tidak berhenti pada pertunjukan musik.

Salah satunya melalui AntiBully Fest, yang memadukan kampanye antiperundungan dengan aktivitas bersama antara anak-anak tipikal dan anak berkebutuhan khusus. Kegiatan tersebut dirancang untuk mendorong interaksi, membangun pertemanan, serta menumbuhkan sikap saling menghargai.

Anak-anak juga memperoleh kesempatan tampil dan membawakan karya orisinal di hadapan teman-teman mereka. Bagi Yuly, panggung dapat menjadi ruang belajar untuk membangun keberanian, kepercayaan diri, dan kemampuan menghargai perbedaan.

Pengalaman mendampingi Kenneth mengubah cara pandang Yuly terhadap perkembangan anak. Ia menyadari bahwa setiap anak memiliki jalur pertumbuhan yang berbeda dan tidak seharusnya dipaksa mencapai kemampuan maupun standar yang sama.

Yuly belajar untuk tidak hanya melihat kesulitan yang dihadapi seorang anak, tetapi juga mengenali kemampuan yang dapat menjadi kekuatannya. Ia percaya bahwa waktu, pendekatan yang tepat, kepercayaan, dan kesempatan mencoba dapat membantu anak menemukan potensi yang sebelumnya belum terlihat.

“Keberhasilan seorang anak bukan tentang seberapa jauh ia mampu mengejar anak lain, tapi seberapa jauh ia telah bertumbuh dari diri dia yang dulu,” tuturnya.

Pemikiran tersebut juga memengaruhi pandangannya mengenai inklusivitas di industri musik. Menurut Yuly, anak berkebutuhan khusus tidak seharusnya hanya mendapatkan kesempatan tampil di panggung khusus. Mereka juga perlu memperoleh ruang yang sama untuk menunjukkan kemampuan dan mendapatkan apresiasi.

BACA JUGA :  Rilis 33 Lagu dalam Tiga Tahun, Vanya Wijaya Angkat Budaya Malang Raya Lewat Album Bumi Kanjuruhan

Ia memahami bahwa panggung khusus dapat memberikan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Namun, ruang tersebut seharusnya menjadi salah satu pilihan, bukan satu-satunya tempat bagi mereka untuk berkembang.

Bagi Yuly, inklusivitas berarti mengubah cara pandang masyarakat: dari sekadar melihat kondisi seseorang menjadi mengenali potensi, karya, proses, dan pencapaiannya.

Dalam perjalanan musikal Kenneth, Yuly berusaha menjaga keseimbangan antara perannya sebagai ibu dan produser. Ia menyadari bahwa mendampingi anak dalam berkarya bukan berarti membentuknya menjadi musisi sesuai keinginan orang tua.

Sebagai ibu, Yuly ingin memastikan Kenneth merasa aman dan nyaman menjalani proses kreatif. Sementara sebagai produser, ia berusaha melihat kemampuan putranya secara objektif, mengenali hal-hal yang masih dapat dikembangkan, serta memberikan arahan tanpa menghilangkan karakter personal Kenneth.

Ia ingin musik menjadi ruang bagi Kenneth untuk menemukan identitas, membangun kepercayaan diri, mencoba hal baru, dan belajar menyampaikan keinginannya. Kenneth juga perlu memiliki kebebasan untuk membuat kesalahan dan belajar dari pengalaman tersebut.

Bagi Yuly, hasil akhir sebuah karya memang penting. Namun, proses yang dijalani Kenneth memiliki arti yang lebih mendalam. Setiap lagu diharapkan menjadi sesuatu yang dapat dikenali, dimiliki, dan dibanggakan Kenneth sebagai bagian dari dirinya sendiri.

Pada 2026, Yuly kembali menulis album penuh kedua untuk Kenneth. Jika album pertama banyak mengangkat perjuangan menghadapi tantangan dan menjaga kekuatan diri, album kedua bergerak ke wilayah yang lebih personal dan reflektif.

Album tersebut memuat enam lagu yang pada awalnya tidak dirancang untuk membentuk satu alur cerita. Lagu dan liriknya lahir secara terpisah, sebelum akhirnya memperlihatkan hubungan emosional yang menyatukan keseluruhan materi.

Yuly menemukan bahwa keenam lagu tersebut menggambarkan perjalanan untuk mengenali diri, menerima diri, dan menyadari bahwa seseorang sudah cukup dan utuh tanpa harus menjadi orang lain.

Melalui album ini, ia ingin menyampaikan bahwa pertumbuhan tidak harus selalu diukur dengan membandingkan diri terhadap orang lain.

Selain mengembangkan karya musikal Kenneth, Yuly juga meluncurkan karya terbarunya melalui jalur musik dan literasi.

Pada 31 Oktober 2026, ia meluncurkan buku Tutur Rasa 3 sebagai salah satu penulis sekaligus merilis single berjudul “Tak Bisa Melepasmu” yang menjadi original soundtrack buku tersebut.

Sebelumnya, official lyric video lagu “Tak Bisa Melepasmu” telah dirilis pada 30 Oktober 2026 melalui kanal YouTube Senada Studios.

Kedua karya tersebut mempertemukan dunia literasi dan musik melalui pengalaman personal Yuly dalam menjalani perjalanan sebagai seorang ibu bersama anaknya.

Proses kreatifnya bermula dari tulisan mengenai perjalanan Yuly dan Kenneth yang kemudian menjadi bagian dari kumpulan cerita para ibu dalam buku tersebut. Setelah buku selesai, Yuly diminta menciptakan sekaligus menyanyikan lagu yang dapat menjadi soundtrack. Dari proses itu lahirlah “Tak Bisa Melepasmu”, yang ditulisnya bersama Rulli Aryanto.

BACA JUGA :  Tinjau Langsung ke Subang, Menko Sugiono Tegaskan Arti Strategis Intervensi Negara Turunkan Stunting

Meski lahir melalui proses berbeda, buku dan lagu tersebut membawa pesan emosional yang saling berkaitan. Buku menjadi ruang untuk menceritakan perasaan, sedangkan lagu menjadi medium untuk menyuarakannya.

Di balik keduanya terdapat refleksi tentang cinta seorang ibu yang ingin selalu menjaga anaknya, tetapi juga harus belajar memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh dan menemukan kehidupannya sendiri.

Sebagai penulis lagu, Yuly biasanya memulai proses kreatif dari pengalaman, cerita, atau perasaan yang kuat. Ia menyukai pendekatan storytelling, dengan lirik yang memiliki alur dan mampu membawa pendengar mengikuti perjalanan cerita serta emosi yang ingin disampaikan.

Pengalaman pribadi sering menjadi titik awal penciptaan lagu. Namun, ia berusaha mengemasnya agar pendengar dari latar belakang berbeda tetap dapat menemukan pengalaman dan perasaan mereka sendiri.

Dengan cara tersebut, cerita yang berangkat dari kehidupan pribadi dapat berkembang menjadi pengalaman bersama melalui musik.

Yuly mengakui membangun ekosistem musik inklusif bukanlah proses mudah. Keterbatasan waktu, tenaga, dan sumber daya menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika ia harus menyeimbangkan tanggung jawab profesional dengan perannya sebagai ibu yang mendampingi perjalanan Kenneth.

Ia belajar mengenali batas diri, menentukan prioritas, dan menerima bahwa tidak semua hal dapat dilakukan sekaligus. Meski demikian, keinginan membangun ruang yang aman dan mendukung bagi Kenneth tetap menjadi alasan utama untuk melanjutkan perjalanan tersebut.

Pada awalnya, Yuly hanya ingin membangun sebuah dunia kecil bagi putranya, tempat Kenneth dapat bertumbuh, berkarya, dan memiliki lingkungan yang mendukung. Seiring waktu, ia menyadari bahwa banyak anak lain mungkin memiliki kebutuhan dan harapan serupa.

Kesadaran itu mendorongnya memperluas ruang yang telah dibangun agar dapat memberikan manfaat bagi lebih banyak anak.

Yuly ingin apa yang dibangun hari ini tidak hanya menjadi panggung bagi Kenneth, tetapi juga fondasi yang dapat membantunya berpijak di masa depan. Ia berharap ruang tersebut terus berkembang dan menjadi tempat bagi anak-anak lain untuk menemukan kesempatan yang mungkin belum pernah mereka dapatkan.

Bagi Yuly, warisan tidak harus selalu berupa sesuatu yang besar atau nama yang terus dikenang. Ia berharap karya dan ruang yang dibangunnya dapat memberikan manfaat serta tetap memiliki arti bagi orang lain di masa mendatang.

Nilai yang ingin ia tinggalkan sederhana: setiap anak memiliki potensi, setiap orang memiliki proses pertumbuhan masing-masing, dan setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk mencoba serta berkarya.

Melalui TEMANHEBAT RECORDS, Senada Music Group, karya musikal Kenneth, serta berbagai inisiatif sosial dan kreatif, Yuly Twins ingin menunjukkan bahwa musik dapat menjadi ruang yang lebih terbuka bagi semua anak.

Baginya, keberhasilan tidak hanya diukur melalui popularitas atau pencapaian komersial, tetapi juga dari kesempatan yang berhasil diciptakan, potensi yang dikembangkan, dan kehidupan yang dapat berubah melalui musik.

Dilaporkan oleh Muhammad Fadhli