EKONOMI

Cerita Sopir Taksi Online di Bali: Paling Rugi Angkut Turis India

696
×

Cerita Sopir Taksi Online di Bali: Paling Rugi Angkut Turis India

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi turis asing di Bali (Kemenparekraf)

DENPASAR – Agus Ridiyanto (55) menceritakan lika-liku selama enam tahun menjadi sopir angkutan berbasis aplikasi.

Dikutip dari detikTravel, Salah satunya ketika mendapat orderan mengantar penumpang dengan jarak yang jauh. Orderan terjauh yang pernah dia jalani dari Jalan Dewi Sri, Kuta menuju Pantai Amed di Karangasem.

Profesi sopir taksi online di Bali ternyata banyak suka dukanya. Sukanya, kalau ada yang kasih tips. Dukanya, kalau mereka mengangkut turis India. Kok bisa?

“Itu ditempuh perjalanan tiga jam lebih. Dari Dewi Sri ke Pantai Amed. Tiga jam perjalanan,” kata Agus saat diwawancarai pekan lalu.

Entah berapa kilometer jaraknya, dengan perjalanan sejauh itu, Agus mengaku memperoleh ongkos Rp 550 ribuan, kotor. Dia masih ingat, empat orang asing yang memesan ojol mobilnya waktu itu.

Meski jauh, Agus justru merasa senang. Menurutnya, selain ongkosnya yang tinggi, konsumsi bahan bakar juga lebih hemat ketimbang harus wara-wiri di Denpasar.

“Saya malah senang. Nggak masalah. Saya malah senang yang long trip. Kalau long trip, pemakaian pada BBM itu biasanya agak lebih hemat sebenarnya. Daripada muter-muter di kota,” katanya.

Ada juga hal-hal menyenangkan lain yang dialami Agus selama melakoni pekerjaan sebagai pengemudi Grab. Misalnya, Agus mengaku pernah beberapa kali mendapat tip.

“Ya, tipping sih ada. Kalau saya mobil ya paling tipping uang. Bisa melalui aplikasi. Ya, kebaikan orang itu beda-beda,” tuturnya.

Lain Agus, lain pula dengan, Sumbogo Eko Prayitno, rekan sesama pengemudi Grab. Dia menuturkan, ada juga beberapa penumpang yang justru sangat perhitungan dengan biaya layanan Grab mobil. Yang paling sering, adalah turis India.

Sumbogo mengaku kerepotan ketika tidak sedang memiliki uang pecahan kecil sebagai kembalian. Sebab, turis India biasanya sangat perhitungan. Mereka tak segan menerima uang kembalian lebih banyak ketimbang kehilangan uang receh.

“Sering sekali terjadi terutama tamu-tamu dari India. (Biayanya) kurang seribu rupiah, tetep (jendela mobil kami) digedor kalau nggak mau ngembalikan (memberi kembalian dengan nominal yang pas). Padahal kami sudah mau jalan,” kata Sumbogo.

Karena tak ingin ribut dengan penumpang, Sumbogo terpaksa memberi uang kembalian yang justru lebih besar nominalnya.

“Kami yang tekor malah,” ujarnya.***

Editor: Redaksi