PERISTIWA

Kapal Ikan China Tenggelam: Kronologi hingga Jumlah WNI Hilang

604
×

Kapal Ikan China Tenggelam: Kronologi hingga Jumlah WNI Hilang

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Sebuah kapal penangkapan ikan China terbalik dan tenggelam di perairan Samudra Hindia bagian tengah. Akibat peristiwa tersebut dilaporkan sejumlah korban hilang, termasuk anak buah kapal (ABK) yang di antaranya ada warga negara Indonesia (WNI).

Berikut sederet hal yang diketahui sejauh ini terkait peristiwa kapal ikan China tenggelam di perairan Samudra Hindia yang mengakibatkan sejumlah WNI hilang:

Dilansir AFP dan Associated Press, Rabu (17/5/2023), televisi pemerintah China, CCTV, melaporkan insiden kapal ikan China tenggelam terjadi pada Selasa (16/5/2023). Insiden itu terjadi saat dini hari, sekitar pukul 03.00 waktu setempat.

Kapal pencari ikan China yang tenggelam itu diketahui bernama Lu Peng Lai Yuan Yu No 028 (BZSD6) dan berbasis di Provinsi Shandong, serta merupakan milik Penglai Jinglu Fishery. Penyebab tenggelamnya kapal pencari ikan berbendera China itu belum diketahui secara jelas.

Menurut situs pelacakan MarineTraffic, kapal tersebut meninggalkan Cape Town, Afrika Selatan pada tanggal 5 Mei 2023 lalu untuk menuju Busan. Kemudian, pada tanggal 10 Mei 2023, kapal terdeteksi berada di sebuah kecil di Samudra Hindia.

Jumlah Korban Hilang: 39 ABK Termasuk 17 WNI
Pihak CCTV melaporkan sebanyak 39 ABK hilang usai kapal ikan China itu tenggelam di perairan Samudra Hindia. Para ABK hilang tersebut terdiri atas 17 warga negara China, 17 WNI dan lima warga negara Filipina.

“Terdapat 17 warga negara Indonesia, 17 warga negara China, dan lima warga Filipina, bunyi keterangan yang diperoleh dari Humas Basarnas Yusuf Latif, dilansir BBC, Rabu (17/5/2023).

Operasi Pencarian dan Penyelamatan Multinasional
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Jubir Kemlu), Teuku Faizasyah mengatakan, Duta Besar (Dubes) Indonesia di Beijing telah melaporkan informasi awal kejadian kapal ikan China tenggelam itu kepada Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi.

Seperti dilansir dari AFP, yang mengutip pernyataan dari media penyiaran China, CCTV, Presiden China Xi Jinping telah memerintahkan operasi pencarian dan penyelamatan. Perdana Menteri (PM) China Li Qiang juga memerintahkan para diplomat China yang ada di luar negeri, serta Kementerian Pertanian dan Kementerian Transportasi, untuk membantu proses pencarian korban selamat.

Tim dari beberapa negara di sekitar kejadian disebut telah berada di lokasi untuk melakukan pencarian dan China telah mengerahkan dua kapal niaga, yaitu Lu Peng Yuan Yu 018 dan Yuan Fu Hai, untuk membantu operasi tersebut.

Sementara itu, saat ini Kemlu RI telah berkoordinasi dengan Basarnas untuk proses evakuasi korban hilang dalam insiden kapal ikan China tenggelam di Samudra Hindia itu. Pemerintah RI juga berkoordinasi dengan Australia.

“Kemlu telah berkoordinasi dengan Basarnas. Melalui penjejakan pancaran sinyal EPIRB (emergency positional indicator radio beacon), diketahui lokasi EPIRB LU PENG YUAN YU 028 berada di Samudera Hindia. Mengingat lokasi tersebut berada dalam koordinasi SAR Australia, Basarnas telah berkomunikasi dengan AMSA Australia,” jelasnya dalam keterangan tertulis Kemlu RI, Rabu (17/5/2023).

Australia, jelas Kemlu, juga telah memulai pencarian. Kapal hingga pesawat dikerahkan dalam pencarian ini.

“Selanjutnya AMSA Australia telah melakukan operasi SAR di sekitar lokasi dengan mengerahkan asset baik pesawat dan kapal, termasuk meminta dukungan dari kapal niaga yang sedang berlayar di sekitar lokasi. Berdasarkan informasi AMSA, kapal telah ditemukan dalam keadaan terbalik. Operasi SAR masih terus dilakukan untuk mencari para awak kapal,” jelas Kemlu.

“KBRI Beijing juga telah berkomunikasi dengan Kemlu RRT. Kemlu RRT menyampaikan keprihatinan atas musibah tersebut, akan mengerahkan 2 kapal pencari dan menjamin pemenuhan hak-hak para awak kapal,” imbuhnya.

Sumber: detik.com