Banner Go Green
BERITA

Hilirisasi Riset Jadi Fokus, Kepala BSKDN Harap Pemda Surakarta Jadi Off Taker Inovasi Perguruan Tinggi

13
×

Hilirisasi Riset Jadi Fokus, Kepala BSKDN Harap Pemda Surakarta Jadi Off Taker Inovasi Perguruan Tinggi

Sebarkan artikel ini
Kepala bskdn 2 800x400 1

Jakarta- Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri, Yusharto Huntoyungo menekankan pentingnya hilirisasi riset sebagai kunci penguatan inovasi daerah. Dirinya berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta dapat berperan aktif sebagai off taker atau pengguna utama inovasi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi.

Hal tersebut disampaikan Yusharto dalam paparannya pada kegiatan Evaluasi dan Penguatan Inovasi Daerah Kota Surakarta. Menurutnya, Surakarta memiliki potensi besar karena didukung oleh keberadaan perguruan tinggi, salah satunya Universitas Sebelas Maret (UNS), serta berbagai lembaga riset yang secara konsisten menghasilkan kajian dan penelitian berkualitas.

“Hilirisasi inovasi ini menjadikan pemerintah daerah diharapkan menjadi off taker dari inovasi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi. Dengan begitu, hasil riset tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi dapat diterapkan menjadi inovasi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkapnya Yusharto di Ruang Video Conference BSKDN pada Kamis, 22 Januari 2026.

Baca Juga  Media Talk 2026, BSKDN Kemendagri Bahas Strategi Komunikasi Kebijakan di Era Digital – BSKDN

Dia menjelaskan, sinergi antara perangkat daerah dan perguruan tinggi perlu diperkuat agar hasil riset dapat diadopsi menjadi solusi atas berbagai permasalahan layanan publik. Setiap fakultas dan pusat kajian di perguruan tinggi, lanjutnya, memiliki potensi untuk berkolaborasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) sesuai urusan pemerintahan yang diampu.

Dirinya juga menyoroti tantangan pendanaan inovasi nasional yang masih relatif terbatas. Saat ini, anggaran riset Indonesia tercatat sekitar 0,24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Namun demikian, komitmen Presiden untuk meningkatkan anggaran riset dan inovasi dinilai menjadi momentum penting untuk mendorong kualitas dan keberlanjutan inovasi ke depan.

Baca Juga  BSKDN Tegaskan Implementasi Arahan Presiden dalam Gerakan Indonesia ASRI di Lingkungan Kerja – BSKDN

Selain pendanaan dan hilirisasi, pembudayaan inovasi turut menjadi perhatian. Yusharto mengapresiasi langkah-langkah yang telah dilakukan Kota Surakarta, seperti kompetisi inovasi, pemberian insentif, dan berbagai bentuk penguatan ekosistem inovasi yang mendorong keterlibatan seluruh pemangku kepentingan.

Dalam kesempatan tersebut, Yusharto juga menegaskan, inovasi daerah harus dilakukan secara berkelanjutan. Inovasi, menurutnya, mengikuti prinsip kurva S, di mana pembaruan perlu dimulai ketika inovasi masih berada pada fase pertumbuhan agar keberlanjutannya tetap terjaga. “Dengan demikian, diharapkan inovasi yang ada dapat terus dipertahankan dan terus bisa dilakukan pembaharuan sehingga tidak sekadar tercatat secara administratif semata, tetapi memang benar-benar dapat diterima dan dimanfaatkan oleh masyarakat,” tegasnya.

Baca Juga  BSKDN Tegaskan Implementasi Arahan Presiden dalam Gerakan Indonesia ASRI di Lingkungan Kerja – BSKDN

Dengan capaian inovasi yang terus meningkat, Yusharto optimistis Kota Surakarta mampu memperkuat perannya sebagai daerah terinovatif, sekaligus menjadi contoh praktik baik dalam hilirisasi riset dan pemanfaatan inovasi perguruan tinggi untuk mendukung pembangunan daerah.

“Seperti yang sudah disampaikan, inovasi Kota Surakarta mengalami peningkatan di tahun 2025 menjadi daerah terinovatif. Saya berharap ke depannya semangat berinovasi terus ada dan semakin baik membawa perubahan di Kota Surakarta,” pungkasnya.

Sumber :BSKDN Kemendagri