Andre Rosiade Pertanyakan Keberadaan Pabrik Semen Baru di Kutai Timur

by -110 views
Anggota Komisi VI DPR Andre Rosiade

JAKARTA – Komisi VI DPR RI menggelar rapat dengan Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dan Menteri Perdagangan (Mendag) M Lutfi. Dalam forum rapat ini, Anggota Komisi VI DPR Andre Rosiade menyampaikan kegelisahan masyarakat mengenai keberadaan pabrik semen baru di Kutai Timur, padahal sudah ada moratorium pembangunan pabrik semen.

“Sesuai dengan pidato kepala BKPM 4 bulan lalu, kita apresiasi presiden dalam ratas Februari 2020 bahwa sudah memutuskan, berkat perjuangan Kepala BKMPM, Pak Menteri BUMN, bahwa moratorium pembangunan pabrik semen sudah dilakukan,” ujar Andre Rosiade dalam keterangan tertulis, Kamis (4/2/2021).

Baik Bahlil, Lutfi maupun Andre hadir langsung di Komisi VI DPR RI. Rapat ini digelar dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Andre mengaku mendapatkan informasi pembangunan pabrik semen di Kutai Timur.

“Di situ disebutkan izinnya belum ada tapi sudah melakukan. Kalau itu terjadi saya nggak tahu ya. Apakah izinnya sebelum Februari 2020 atau sesudah. Saya dengar akan diproduksi 14 juta ton semen dari pabrik semen ini,” katanya.

“Pak Bahlil, Pak Mendag Lutfi, saya ingin sampaikan bahwa produksi pabrik semen kita saat ini 120 juta ton, konsumsi kita sebelum COVID-19 itu sekitar 70-75 juta ton, kita sudah surplus. Sekarang kita COVID-19, otomatis konsumsi semen kita menurun, jadi surplus kita mungkin 60 juta ton sekarang. Ditambah lagi 14 juta ton, kemungkinan surplus di 74 juta ton,” terang Andre.

Ketua DPD Gerindra Sumbar ini menjelaskan jika pabrik semen baru di Kutai Timur tetap dibiarkan untuk lanjut beroperasi maka akan ada 4 pabrik semen nasional dan swasta yang bisa terancam keberadaannya di antaranya adalah Semen Tonasa, Semen Bosowa dan Semen Kupang.

“Untuk itu penting untuk diketahui, izin dari pabrik semen itu sebelum atau sesudah ratas,” kata dia.

Pria yang juga merupakan Ketua Harian Ikatan Keluarga Minang ini mengatakan pemerintah harus bisa memastikan keberadaan suatu pabrik baru tidak menghancurkan dunia usaha yang lama. Moratorium yang ada, lanjut Andre, harus ditegakkan.

“Karena semen ini adalah industri strategis. Koreksi saya kalau salah, ini merupakan sektor yang mana Indonesia masih menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Sektor yang lain kita menjadi penonton di negara sendiri,” tuturnya.

“Kalau kebijakan kita tidak pro, maka kita cuma menjadi penonton. Karena sekali lagi, pengusaha semen Tiongkok itu diduga melakukan predatory pricing di setiap negara, dan ini sudah terbukti di KPPU kemarin, dia jual murah, kita bangkrut, kemudian dia naikin harganya. Itu modusnya di berbagai negara,” sambungnya.

Terakhir, Andre juga mengingatkan ke Mendag Lutfi tentang potensi bahaya dari Permendag 7 tahun 2018 tentang impor semen dan semen clinker.

“Saya ingin ingatkan ke Pak Mendag untuk revisi Permendag 7 tahun 2018. Dulu kepada Pak Menteri Perdagangan sebelum Pak Lutfi juga saya ingatkan itu,” tukasnya.

“Memang sekarang tidak ada impor semen dan clinker, tapi saya takutkan Pak Lutfi, setelah Pak Lutfi berhenti nanti impor semen dan clinker akan muncul. Soalnya dulu setelah Pak Lutfi selesai jadi mendag, impor baja meningkat sampai 100 triliun per tahun,” pungkas Andre.

[detikcom]